Anya Zen Ungkap Tantangan Berat Memerankan Ningsih di Film Lobang Buaya

Anya Zen mengungkap tantangan emosional saat memerankan Ningsih dalam film Lobang Buaya. Demi menjaga kesehatan mental, ia bahkan berkonsultasi dengan psikolog sebelum menjalani adegan berat. Seperti apa perjuangannya?

FILM

Redaksi Fasamedia

10/23/20264 min read

Jakarta, Fasamedia — Memerankan karakter dengan pengalaman hidup yang penuh tekanan membutuhkan persiapan lebih dari sekadar menghafalkan dialog. Hal tersebut dirasakan Anya Zen ketika dipercaya memerankan Ningsih, seorang penari ronggeng dalam film horor-misteri Lobang Buaya karya sutradara Hanung Bramantyo.

Dalam film yang mengambil latar menjelang tragedi 1965 di Indonesia tersebut, Anya dituntut menghadirkan karakter yang memiliki sisi emosional kuat. Ningsih digambarkan sebagai perempuan yang mengalami pengkhianatan dan ketidakadilan dari lingkungan di sekitarnya.

Peran ini menjadi salah satu pengalaman paling menantang bagi Anya. Ia bahkan mengungkapkan bahwa ada adegan berat yang membuatnya perlu berkonsultasi dengan psikolog sebelum proses pengambilan gambar.

Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapannya untuk menjalani adegan secara profesional sekaligus memperhatikan kesehatan mentalnya.

Ningsih, Karakter yang Menantang bagi Anya Zen

Film Lobang Buaya menghadirkan kisah misteri yang berpusat pada serangkaian pembunuhan terhadap tokoh desa. Peristiwa tersebut selalu terjadi setiap tanggal 30 sepanjang tahun 1964 dan menjadi teka-teki yang harus dipecahkan oleh Letnan Soegeng, karakter yang diperankan Baskara Mahendra.

Penyelidikan yang dilakukan Soegeng berlangsung di tengah suasana desa yang dipenuhi ketegangan. Kemunculan sosok misterius bernama hantu bolong turut memperkuat atmosfer horor yang menyelimuti cerita.

Di tengah konflik tersebut, Ningsih hadir sebagai karakter yang menarik perhatian. Sebagai penari ronggeng, ia digambarkan mengalami perlakuan tidak adil dan pengkhianatan dari orang-orang di sekitarnya.

Karakter ini memiliki dimensi emosional yang kuat karena penderitaannya berkaitan dengan posisi perempuan dan ketidakadilan kelas dalam masyarakat pada masa itu.

Anya mengaku bangga mendapatkan kesempatan untuk memerankan Ningsih. Ia melihat karakter tersebut sebagai representasi kelompok yang mengalami penindasan.

“Aku bangga banget bisa memerankan Ningsih, seorang wanita yang menjadi representasi bagi kaum tertindas pada masa itu. Ini adalah peran paling intens dan paling menantang bagiku sampai saat ini,” tutur Anya.

Pengalaman Anya dalam dunia tari juga menjadi salah satu bekal untuk memerankan Ningsih. Perpaduan kemampuan fisik dan pendalaman emosi membantunya membangun karakter yang tidak hanya hadir melalui dialog, tetapi juga melalui gerak dan ekspresi.

Berkonsultasi dengan Psikolog Sebelum Adegan Berat

Salah satu hal yang diungkapkan Anya dari proses produksi Lobang Buaya adalah pentingnya menjaga kesehatan mental ketika harus menjalani adegan yang berat secara emosional.

Anya menceritakan bahwa ada satu adegan yang membutuhkan perhatian khusus. Sebelum mengambil adegan tersebut, ia meminta izin kepada Hanung Bramantyo untuk membagikan detail adegan kepada psikolognya.

Keputusan itu diambil sebagai bentuk persiapan agar dirinya dapat menghadapi tuntutan peran dengan tetap memperhatikan kondisi psikologis.

“Ada satu adegan yang sangat-sangat berat di film ini, dan sebelum aku ambil adegan tersebut, aku izin ke Mas Hanung untuk menceritakan adegannya ke psikolog aku, untuk menjaga kesehatan mentalku juga. Ternyata Mas Hanung sangat suportif, dan memperbolehkan aku cerita dengan detail adegannya. Terlebih dari itu, ketika kami take, semua orang di set sangat peduli sama kenyamanan aku,” ungkap Anya.

Dari pengakuan tersebut, terlihat bahwa proses produksi sebuah film tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan artistik. Persiapan pemain dan komunikasi dengan sutradara juga menjadi bagian penting, terutama ketika sebuah adegan menuntut keterlibatan emosional yang intens.

Dukungan Hanung dan kru memberikan ruang bagi Anya untuk mempersiapkan diri. Pendekatan seperti ini juga menunjukkan pentingnya memperhatikan kenyamanan pemain selama proses produksi berlangsung.

Bagi seorang aktor, mendalami karakter bukan berarti harus mengabaikan kebutuhan pribadi. Persiapan yang matang dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kesehatan mental.

Dukungan Sutradara dan Kru dalam Proses Produksi

Dalam pembuatan film, sutradara memiliki peran penting dalam mengarahkan pemain agar dapat menyampaikan emosi sesuai kebutuhan cerita. Namun, proses tersebut juga membutuhkan komunikasi dua arah.

Pengalaman Anya memperlihatkan bagaimana keterbukaan antara pemain dan sutradara dapat membantu menghadapi tantangan di lokasi syuting.

Ketika Anya menyampaikan keinginannya untuk berkonsultasi dengan psikolog, Hanung Bramantyo memberikan dukungan dan mengizinkannya menceritakan detail adegan tersebut.

Anya juga mengungkapkan bahwa seluruh orang di lokasi syuting memperhatikan kenyamanannya ketika adegan itu direkam.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari pengalaman kerja yang ia ceritakan secara terbuka. Meski tuntutan akting tetap harus dipenuhi, perhatian terhadap kondisi pemain menjadi hal yang tidak kalah penting.

Dalam konteks produksi film, pendekatan ini memperlihatkan bahwa hasil akhir yang kuat tidak hanya bergantung pada kemampuan aktor, tetapi juga pada proses kerja yang mendukung mereka.

Beradu Peran dengan Aktor Berpengalaman

Anya Zen tidak tampil sendirian dalam Lobang Buaya. Ia beradu akting dengan Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Iskak Khivano, dan Mathias Muchus.

Kehadiran para aktor tersebut membentuk jajaran pemain lintas generasi yang mendukung cerita misteri karya Hanung Bramantyo.

Di dalam film, ketegangan tidak hanya muncul dari rangkaian pembunuhan dan penampakan sosok misterius. Hubungan antarkarakter juga menghadirkan konflik yang membuat penonton terus mempertanyakan motif setiap tokoh.

Ningsih menjadi salah satu karakter yang memancing respons emosional penonton. Penderitaannya membuat banyak orang bersimpati, tetapi situasi yang penuh manipulasi juga menyisakan pertanyaan mengenai kebenaran di balik peristiwa yang terjadi.

Salah satu respons penonton terhadap penampilan Anya berbunyi, “Akting Anya Zen sebagai Ningsih di sini benar-benar top! Sebuah karakter yang tragis dan bikin kita sakit hati, dan pada akhirnya menimbulkan konflik untuk penonton: siapa yang sebenarnya salah dalam cerita ini?”

Komentar tersebut menggambarkan bagaimana karakter Ningsih mampu memunculkan perdebatan mengenai benar dan salah.

Akting yang Tidak Hanya Mengandalkan Penampilan

Melalui Ningsih, Anya Zen menghadirkan karakter yang menuntut keterlibatan fisik sekaligus emosional. Pengalaman ini menjadi tantangan penting dalam perjalanan kariernya.

Karakter tersebut juga menjadi bagian dari strategi cerita Lobang Buaya untuk membangun ketegangan. Penonton dibuat bersimpati kepada Ningsih, tetapi pada saat yang sama tetap didorong untuk mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Dengan latar pembunuhan berantai pada 1964, misteri hantu bolong, dan konflik sosial, film ini menyajikan cerita yang memadukan horor dengan teka-teki karakter.

Film Lobang Buaya masih tayang di bioskop Indonesia. Penonton dapat mengikuti informasi terbaru mengenai tiket dan konten eksklusif melalui akun Instagram @filmlobangbuaya dan @adhyapictures.

Perjalanan Anya Zen sebagai Ningsih menjadi salah satu alasan untuk menyaksikan film ini. Di balik karakter yang terlihat rapuh, terdapat proses akting yang intens dan persiapan yang menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kesehatan mental.

Kontributor: Sarah Limbeng

Editor: Permadani T.

Informasi

Berita, event, kuliner, entertainment terkini

Masukkan alamat email anda