Bisikan Desa Gringsing Gunakan Virtual Production, Hadirkan Dunia Horor yang Lebih Imersif
Teknologi virtual production dan real set dipadukan untuk membangun dunia Desa Gringsing yang penuh kabut, misteri, dan teror supernatural.
FILM


Jakarta, Fasamedia — Film horor misteri Bisikan Desa Gringsing menghadirkan pendekatan produksi yang berbeda melalui pemanfaatan teknologi virtual production. Film produksi Mandela Pictures dan Oceanus Media Global (OMG Studios) tersebut menjadi film panjang horor Indonesia pertama yang memanfaatkan teknologi virtual production dalam proses produksinya.
Hal itu terungkap dalam press screening dan press conference Bisikan Desa Gringsing yang digelar pada 18 September 2026. Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026.
Teknologi virtual production digunakan untuk membantu menciptakan dunia Desa Gringsing, lokasi utama yang menjadi pusat berbagai kejadian misterius dalam film. Sejumlah adegan diproduksi menggunakan LED volumetric stage yang memungkinkan lingkungan digital fotorealistik ditampilkan secara real time di hadapan para pemain.
Pada saat yang sama, sebagian adegan tetap diproduksi menggunakan real set. Perpaduan keduanya menjadi bagian penting dalam membangun atmosfer Desa Gringsing, mulai dari jalanan berkabut, bangunan desa yang terasa mengancam hingga berbagai peristiwa supernatural. Pendekatan tersebut membuat teknologi tidak hanya menjadi elemen teknis, tetapi juga digunakan untuk mendukung kebutuhan cerita.
“Bisikan Desa Gringsing menunjukkan bagaimana teknologi dapat memberikan hasil terbaik ketika digunakan untuk mendukung cerita. Dengan memadukan virtual production, real set, serta talenta kreatif dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia, kami bersama-sama membangun Desa Gringsing sebagai satu dunia sinematik yang utuh. Kami bangga menjadi bagian dari kolaborasi ini dan tidak sabar untuk akhirnya membawa pengalaman Desa Gringsing kepada penonton di layar lebar,” ujar Nick GC Tan, Founder dan CEO Oceanus Media Global (OMG Studios).
Namun, penggunaan teknologi tersebut juga membawa tantangan tersendiri. Proses pengambilan gambar di studio virtual production dilakukan lebih dahulu sebelum produksi berlanjut di real set.
Kondisi tersebut membuat tim harus memastikan lingkungan digital dan fisik dapat terlihat menyatu. Detail ruang, pencahayaan, komposisi, blocking, hingga pergerakan pemain harus dirancang sejak awal agar kesinambungan visual tetap terjaga. Sutradara sekaligus penulis film, Ivander Tedjasukmana, mengatakan perpindahan dari lingkungan virtual ke set nyata membutuhkan perencanaan yang matang.
“Buat saya, tantangan menariknya justru bagaimana teknologi dan real set akhirnya tidak terasa sebagai dua dunia yang berbeda ketika menjadi satu film. Karena kami syuting di studio virtual production lebih dahulu, banyak hal harus sudah dipikirkan sejak awal agar ketika dilanjutkan di real set, visual, blocking, sampai atmosfernya tetap terasa menyambung. Teknologi memberi kami kemungkinan baru, tetapi pada akhirnya semuanya harus bekerja untuk membuat penonton percaya bahwa Desa Gringsing benar-benar satu tempat yang utuh,” ujar Ivander.
Cerita Bisikan Desa Gringsing sendiri berpusat pada Hesti yang diperankan Aghniny Haque. Hesti datang ke Desa Gringsing untuk mencari ayahnya yang hilang.
Pencarian tersebut kemudian berubah menjadi pengalaman penuh teror. Hesti berhadapan dengan Fatimah (Fatmah Nahdi), arwah yang mengurung seluruh warga di desa dan membunuh siapa saja yang berusaha keluar.
Semakin jauh Hesti mencari jawaban, semakin banyak rahasia yang terbuka. Setiap karakter menyimpan bagian dari cerita, sementara jawaban yang ditemukan justru membawa Hesti semakin dalam ke misteri Desa Gringsing. Perjalanan tersebut juga memiliki kaitan dengan trauma masa lalu Hesti.
“Sejak awal kami ingin Bisikan Desa Gringsing menjadi pengalaman sinematik di mana penonton terus terlibat dengan ceritanya. Hesti datang ke desa Gringsing untuk mencari satu jawaban, tetapi perjalanannya justru membuka begitu banyak pertanyaan lain. Sekarang filmnya sudah utuh dan akhirnya bisa kami perlihatkan kepada teman-teman media. Kami berharap pengalaman mencari jawaban bersama Hesti inilah yang nantinya juga akan membuat penonton terus membicarakan film ini setelah keluar dari bioskop,” ujar Manoj Samtani, Produser Mandela Pictures.
Bagi Aghniny Haque, penggunaan virtual production turut memengaruhi prosesnya dalam membangun karakter Hesti. Ia harus menjaga kesinambungan emosi meskipun proses syuting dilakukan dengan pendekatan berbeda.
“Sebagai pemain, saya harus percaya bahwa semua yang dialami Hesti benar-benar terjadi di satu dunia yang sama, meskipun proses syutingnya dilakukan dengan pendekatan yang berbeda. Saat di studio virtual production, lingkungan Desa Gringsing sudah bisa kami lihat langsung di layar LED, sementara ketika berpindah ke real set, tantangannya adalah menjaga kembali emosi dan pengalaman Hesti agar tetap berkesinambungan. Buat saya ini pengalaman baru yang menarik, karena teknologi akhirnya tetap harus bertemu dengan hal paling mendasar dalam akting, yaitu bagaimana kita percaya pada situasi dan karakter yang kita jalani,” tutur Aghniny.
Teknologi tersebut kemudian dipadukan dengan sinematografi, tata artistik, tata suara, musik, serta permainan aktor. Lagu “Perjalanan Menawar Racun” karya Kunto Aji turut menjadi bagian dari perjalanan emosional film.
Bisikan Desa Gringsing merupakan hasil kolaborasi produksi Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Produksi dilakukan dengan memanfaatkan studio virtual production OMG Studios di Iskandar Malaysia Studios (IMS), Johor, Malaysia.
Sebelum perilisan, film telah menggelar special screening pada 12–13 September 2026 di sejumlah bioskop. Tim juga mengadakan film talks di sejumlah sekolah kejuruan dan universitas untuk memperkenalkan pengalaman produksi serta pemanfaatan teknologi virtual production.
Film ini dibintangi Aghniny Haque, Fatmah Nahdi, Surya Saputra, Kiki Narendra, Iskak Khivano, Hesti Putri, Iyang Darmawan, Akun Gege, Swetajaloe, Nina Tamam, Mian Tiara, Nizar Umar, Azkya Mahira, Shaqueena Medina Lukman, dan Nazhira Rizka. Bisikan Desa Gringsing mulai tayang di bioskop Indonesia pada 24 September 2026, kemudian dilanjutkan dengan perilisan di Malaysia, Singapura, Turki, dan Azerbaijan.
Kontributor: Sarah Limbeng
Editor: Permadani T.
Informasi
Berita, event, kuliner, entertainment terkini
Kontak
fasamediainformasi@gmail.com
+6285816161601
