Film Foufo Jadi Kebanggaan Warga Madura, Bayu Skak Hadirkan Kisah Lokal Berbahasa Madura ke Layar Lebar

Roadshow film Foufo di Madura disambut meriah. Warga mengaku bangga karena untuk pertama kalinya bisa menyaksikan film nasional yang didominasi penggunaan bahasa Madura.

FILM

Redaksi Fasamedia

7/19/20263 min read


Fasamedia – Kehadiran film Foufo menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Madura. Untuk pertama kalinya, sebuah film layar lebar Indonesia yang didominasi penggunaan bahasa Madura hadir dan menggelar roadshow langsung di Pulau Madura sebelum tayang secara nasional pada 9 Juli 2026. Sambutan hangat masyarakat menunjukkan bahwa cerita lokal masih memiliki tempat istimewa di hati penonton Indonesia.

Roadshow yang digelar di KCM Pamekasan berlangsung meriah. Ratusan penonton memenuhi bioskop untuk menyaksikan film terbaru garapan Bayu Skak yang diproduksi oleh Skak Studios bersama Sinemart. Acara kemudian dilanjutkan dengan Madura Fest, sebuah perayaan budaya yang semakin mempererat kedekatan film ini dengan masyarakat setempat.

Bagi Bayu Skak, perjalanan ke Madura bukan sekadar agenda promosi. Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai momen "pulang kampung" bagi Foufo, sebab hampir seluruh identitas budaya yang ditampilkan dalam film berasal dari kehidupan masyarakat Madura.

Menurut Bayu, ada satu nilai yang sangat menginspirasi dirinya ketika mengenal masyarakat Madura, yakni keberanian serta kecintaan yang begitu besar kepada keluarga, terutama kepada orang tua.

"Salah satu yang membuat saya takjub saat bertemu dan melihat orang Madura adalah keberanian mereka dan rasa cinta kasih mereka kalau sudah punya keinginan. Di mana nomor satu adalah orangtua, Bapak dan Ibu, dan di film ini, seorang anak dari keluarga Madura sangat mengutamakan dan memegang janjinya untuk Ibunya," ujar Bayu Skak.

Nilai itulah yang kemudian menjadi fondasi utama cerita Foufo. Meski dibalut unsur komedi dan fiksi ilmiah, film ini tetap menempatkan hubungan keluarga sebagai inti dari konflik dan perjalanan karakter utamanya.

Sebelum singgah di Madura, Foufo telah lebih dahulu melakukan roadshow di sejumlah kota di Jawa Timur. Seluruh tiket pertunjukan ludes terjual, menunjukkan tingginya rasa penasaran masyarakat terhadap film yang menawarkan konsep berbeda tersebut. Bahkan saat gala premiere di Jakarta, tim produksi menghadirkan peternakan bebek, sapi, hingga kambing di area karpet merah sebagai simbol kuatnya identitas lokal yang diusung film ini.

Film Foufo dibintangi sederet aktor dan komedian, seperti Tretan Muslim, Habib Ja'far, Ade Bibier Kurniyawan, Benidictus Siregar, Bambang Ceper, Siti Kam, Fuad Sasmita, Sangat Mahendra, Anggun Dwi, Ina Pogang, Rifqy Abdillah, Kiano, Hari Otong, Rizki Bibir, hingga DJ Rara. Kolaborasi para pemain tersebut semakin memperkuat nuansa lokal yang ingin ditampilkan sepanjang film.

Bagi pemeran utama Tretan Muslim, Foufo bukan hanya sebuah film hiburan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap identitas masyarakat Madura.

"Dari film ini selain membuktikan bahwa talent-talent asli Madura luar biasa, namun kami juga mau mengangkat bahwa orang Madura itu kekeluargaannya sangat kuat. Itulah yang ingin kami tunjukkan, bahwa orang Madura itu kekeluargaannya kuat, apalagi untuk ibu, pasti apa pun dilakukan," ujar Tretan Muslim.

Pernyataan tersebut sejalan dengan respons penonton. Banyak warga Madura mengaku terharu karena akhirnya bisa menyaksikan bahasa daerah mereka digunakan secara dominan dalam sebuah film nasional.
Salah seorang penonton menyebut Foufo sebagai kebanggaan masyarakat Madura karena mampu memperkenalkan bahasa daerah kepada publik yang lebih luas.

"Film Foufo ini sangat membanggakan warga Madura, karena bisa mengenalkan bahasa Madura jadi lebih luas lagi ke masyarakat Indonesia. Film ini membuktikan bahasa Madura itu juga keren dan luar biasa," ujar seorang penonton.
Penonton lainnya juga memberikan apresiasi terhadap Bayu Skak yang dinilai berhasil mengangkat talenta-talenta asli Madura ke layar lebar.

"Perasaannya bangga banget, karena film ini pemainnya hampir semuanya dari orang Madura asli. Wajib nonton karena filmnya benar-benar bagus banget," katanya.

Tak hanya cerita dan budaya yang mendapat pujian, karakter dalam film pun menuai apresiasi. Sosok Ibu Saiqona disebut sebagai karakter favorit karena menggambarkan sosok ibu yang penuh kesabaran dan kasih sayang, sementara karakter Muslim dinilai mampu membawa emosi penonton sepanjang cerita.

Secara garis besar, Foufo berkisah tentang Muslim, seorang pengepul rongsokan yang sedang berusaha melunasi biaya haji ibunya. Hidupnya berubah ketika menemukan bangkai UFO beserta alien yang masih hidup dan kemudian diberi nama Foufo. Teknologi milik Foufo membantu menyelesaikan berbagai persoalan keluarga Muslim, tetapi situasi berubah ketika energi alien tersebut mulai habis. Muslim pun harus memilih antara memenuhi impian sang ibu berangkat haji atau membantu Foufo kembali ke kapal induknya.

Menggabungkan komedi, drama keluarga, budaya Madura, dan sentuhan science fiction, Foufo menjadi salah satu film Indonesia yang menawarkan warna baru di industri perfilman nasional. Film ini dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026 dan diharapkan dapat semakin memperkenalkan kekayaan budaya Madura kepada masyarakat luas.
Kontributor: Ana Tasia
Editor: Permadani T.

Informasi

Berita, event, kuliner, entertainment terkini

Masukkan alamat email anda