Film Ghost in the Cell Hadirkan Kolaborasi Lintas Seni, Joko Anwar Gandeng 6 Ilustrator Dunia

Film horor komedi Ghost in the Cell karya Joko Anwar hadir dengan pendekatan visual yang berbeda. Enam ilustrator Indonesia yang telah berkarier di level internasional diajak berkolaborasi untuk menciptakan konsep seni horor yang unik dalam film ini.

FILM

Redaksi Fasamedia

3/6/20262 min read

Jakarta, Fasamedia — Industri film Indonesia kembali menghadirkan inovasi menarik melalui proyek terbaru sutradara Joko Anwar. Film horor komedi berjudul Ghost in the Cell tidak hanya menampilkan cerita unik, tetapi juga menggabungkan unsur seni ilustrasi dari enam ilustrator Indonesia berkelas dunia.

Para ilustrator tersebut diberi tugas khusus untuk merancang konsep visual “instalasi kengerian” yang menjadi bagian penting dari atmosfer cerita film.

Joko Anwar menjelaskan bahwa ide kolaborasi ini muncul dari keinginannya mempertemukan berbagai disiplin seni dalam satu karya.

“Sejak awal saya ingin Ghost in the Cell tidak hanya menjadi film, tapi juga ruang kolaborasi lintas seni bagi seniman-seniman lokal,” kata Joko Anwar.

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak ilustrator berbakat dengan karakter visual yang kuat.

“Dengan melibatkan mereka, kami bukan hanya memperkaya dunia visual film ini, tapi ingin membuat pernyataan bahwa kolaborasi lintas medium seperti ini penting agar ekosistem kreatif kita terus tumbuh,” ujarnya.

Deretan Ilustrator Berbakat

Enam ilustrator yang terlibat adalah Anwita Citriya, Benediktus Budi, Benny Bennos Kusnoto, Coki Greenway, Hafidzjudin, dan Rudy AO.

Anwita Citriya dikenal sebagai ilustrator komik horor psikologis yang kariernya berkembang pesat setelah dilirik penerbit Amerika Serikat pada 2021. Ia kemudian terlibat dalam seri komik CREEPSHOW serta bekerja dengan BOOM! Studios sebagai artist-writer.

Benediktus Budi merupakan ilustrator digital yang banyak menciptakan karya bernuansa gelap untuk poster, t-shirt, dan cover album. Ia bahkan pernah membuat karya untuk band metal internasional Toxicholocaust dan acara televisi Amerika Serikat.

Sementara itu, Benny Bennos Kusnoto telah berkarier lebih dari 17 tahun sebagai storyboard artist dan pernah berkontribusi dalam proyek komik internasional seperti Justice League Dark. Ilustrator lain, Coki Greenway, dikenal luas melalui karya seni gelap yang digunakan oleh band-band rock dan metal dunia seperti AC/DC dan Judas Priest. Ia juga pernah membuat merchandise untuk Marvel.

Hafidzjudin menghadirkan gaya visual yang detail dan intens dengan nuansa seram khas ilustrasi hand drawing. Ia kerap bekerja sama dengan band metal Indonesia seperti Seringai dan Dead Squad. Sedangkan Rudy AO dikenal melalui ilustrasi hiper-realistisnya. Ia juga dipercaya membuat poster film Ghost in the Cell.

Cerita Horor di Balik Jeruji Besi

Film ini mengangkat latar kehidupan para narapidana di Lapas Labuhan Angsana yang dipenuhi ketegangan, kekerasan, dan ketidakadilan.

Suatu hari, seorang napi baru masuk ke penjara tersebut. Tak lama setelah itu, para tahanan mulai meninggal satu per satu secara misterius dan mengerikan.

Belakangan terungkap bahwa ada sosok hantu yang membunuh orang-orang dengan aura paling negatif.

Hal ini membuat para napi berlomba-lomba melakukan kebaikan agar aura mereka tetap positif dan terhindar dari ancaman kematian.

Namun menjaga sikap baik di lingkungan penjara yang penuh konflik tentu bukan perkara mudah. Pada akhirnya, para tahanan menyadari bahwa satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan bersatu melawan penindasan yang ada—termasuk menghadapi teror supernatural tersebut.

Film Ghost in the Cell diproduksi oleh Come and See Pictures bersama RAPI Films dan Legacy Pictures. Barunson E&A turut berperan sebagai sales agent untuk distribusi internasional. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026.

Kontributor: Sarah Limbeng

Penulis dan Editor: Permadani T.