Film “Ghost in the Cell” Tawarkan Horor, Tawa, dan Kritik Sosial yang Menyentil

Ketika penjara jadi arena bertahan hidup—bukan hanya dari manusia, tapi juga dari hantu yang membaca “aura”.

FILM

Redaksi Fasamedia

4/13/20262 min read

Fasamedia — Industri perfilman Indonesia kembali diramaikan oleh karya terbaru Joko Anwar bertajuk Ghost in the Cell. Film ini dijadwalkan tayang mulai 16 April 2026 dan membawa konsep unik berupa perpaduan horor, komedi, serta kritik sosial yang tajam.

Diproduksi oleh Come and See Pictures, film ini menghadirkan pengalaman sinematik yang tidak biasa. Joko Anwar dikenal sebagai sutradara yang kerap bereksperimen dengan genre, dan kali ini ia kembali menghadirkan sesuatu yang segar sekaligus berani.

Kesuksesan film ini sudah terlihat sejak penayangan perdananya di Berlinale 2026. Respons positif datang dari penonton global, bahkan distribusi film ini telah menjangkau 86 negara. Antusiasme juga terlihat di Indonesia, di mana penayangan terbatas di 16 kota langsung sold out.

Dalam film ini, Joko mencoba menggambarkan realitas sosial Indonesia dengan pendekatan satir.

“Misinya supaya penonton bisa tertawa, tapi lalu sadar bahwa kita sedang melihat diri kita sendiri,” ujarnya.

Cerita berfokus pada kehidupan di dalam lapas yang penuh ketidakadilan. Para narapidana hidup dalam tekanan, baik dari sistem yang korup maupun konflik internal. Ketegangan meningkat ketika kematian misterius mulai terjadi akibat kehadiran sosok gaib.

Uniknya, hantu dalam film ini digambarkan membunuh berdasarkan aura negatif seseorang. Hal ini memicu para napi untuk berubah menjadi “lebih baik” demi bertahan hidup. Namun, kondisi penjara yang keras membuat perubahan tersebut menjadi tantangan tersendiri.

Produser Tia Hasibuan menilai bahwa isu yang diangkat sangat relevan secara global.

“Banyak penonton di Berlinale merasakan keresahan yang sama,” katanya.

Film ini juga menyoroti isu korupsi dan ketimpangan hukum, termasuk bagaimana narapidana tertentu masih memiliki privilese meski sedang menjalani hukuman. Tema ini menjadi salah satu kekuatan utama yang membuat film terasa dekat dengan realitas.

Dari sisi produksi, Ghost in the Cell melibatkan 108 aktor dari berbagai generasi dan negara. Nama-nama besar seperti Abimana Aryasatya, Morgan Oey, dan Aming turut meramaikan film ini.

Abimana mengungkapkan bahwa proses akting dalam film ini menuntut pemahaman tempo yang kompleks.

“Kalau para aktornya tidak mengerti beat yang digunakan, itu akan susah,” jelasnya.

Dengan pendekatan yang berani dan cerita yang relevan, Ghost in the Cell tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga refleksi sosial. Film ini mengajak penonton untuk melihat realitas dengan cara yang berbeda—melalui tawa, ketegangan, dan perenungan.

Kontributor: Sarah Limbeng

Editor: Permadani T.