Film Para Perasuk Rilis Trailer Resmi, Kisahkan Ambisi Seorang Pemuda Menyelamatkan Desa

Official trailer film Para Perasuk akhirnya dirilis dan menampilkan cerita penuh ambisi, tradisi, serta konflik sosial di Desa Latas. Dibintangi Angga Yunanda bersama deretan aktor ternama, film karya Wregas Bhanuteja ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai April 2026.

FILM

Redaksi Fasamedia

3/9/20262 min read

Fasamedia — Film terbaru karya sutradara Wregas Bhanuteja berjudul Para Perasuk resmi merilis official trailer yang menampilkan cerita unik tentang tradisi kerasukan dan perjuangan masyarakat desa mempertahankan sumber kehidupan mereka. Trailer tersebut memberikan gambaran lebih luas mengenai latar cerita yang berlangsung di Desa Latas, sebuah desa kecil yang dikenal dengan tradisi pesta kerasukan.

Film ini sebelumnya telah menarik perhatian dunia setelah melakukan pemutaran perdana di ajang Sundance Film Festival 2026. Kehadirannya di festival film internasional tersebut mendapatkan sambutan hangat dari penonton dan kritikus.

Dalam film ini, Angga Yunanda dipercaya memerankan karakter utama bernama Bayu, seorang pemuda berusia 20 tahun yang memiliki ambisi besar untuk menjadi Perasuk. Perasuk merupakan sosok yang mampu memimpin ritual kerasukan dalam pesta tradisional desa. Kemampuan ini bukan hanya dianggap sebagai keterampilan spiritual, tetapi juga bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat Desa Latas.

Selain Angga Yunanda, film ini juga dibintangi sejumlah aktor ternama seperti Maudy Ayunda, Anggun, Bryan Domani, dan Chicco Kurniawan. Dalam cerita, Bayu bersama dua rekannya yang diperankan Bryan Domani dan Chicco Kurniawan belajar menjadi Perasuk di bawah bimbingan karakter yang dimainkan Anggun.

Konflik mulai muncul ketika mata air keramat yang menjadi tempat para Perasuk mencari roh terancam digusur. Bagi warga Desa Latas, mata air tersebut bukan hanya sumber air, tetapi juga simbol spiritual dan identitas budaya. Situasi ini membuat warga desa melakukan perlawanan kolektif demi mempertahankan mata air yang menjadi pusat kehidupan mereka.

Wregas Bhanuteja menjelaskan bahwa tradisi kerasukan yang diangkat dalam film ini mencerminkan dinamika sosial masyarakat. “Pesta sambetan dan kerasukan di sini merefleksikan pengalaman komunal yang kita temui sehari-hari di Indonesia. Mereka melepaskan tekanan dan saling terkoneksi satu sama lain. Di sisi lain, kami juga ingin memperlihatkan adanya ketegangan yang berasal dari luar, yang berusaha merebut Desa Latas dari para warganya, dan bagaimana para warga di Desa Latas mempertahankannya,” kata Wregas.

Film ini diproduksi oleh Rekata Studio dengan produser Siera Tamihardja, Iman Usman, dan Amalia Rusdi.

Menariknya, proyek film ini juga melibatkan kolaborasi internasional melalui ko-produksi antara Indonesia, Singapura, Prancis, dan Taiwan.

Kolaborasi tersebut memungkinkan film ini memiliki kualitas produksi yang lebih luas serta potensi distribusi di berbagai negara.

Bagi Angga Yunanda, karakter Bayu menghadirkan tantangan tersendiri karena kompleksitas emosinya.

“Bayu berusaha sekuat tenaga dengan apa yang dia bisa untuk mencapai level sempurna, dan selalu merasa tidak pernah cukup. Tantangan-tantangan dari Wregas dengan imajinasinya yang luar biasa, membuat karakterku di Para Perasuk menjadi sangat berkesan. Kompleksitasnya luar biasa,” ujarnya.

Secara garis besar, film ini mengisahkan perjalanan Bayu yang ingin memimpin pesta kerasukan terbesar demi mengumpulkan dana untuk menebus mata air keramat yang terancam hilang. Namun dalam perjalanannya, Bayu menyadari bahwa ambisi besar saja tidak cukup untuk menjadi Perasuk sejati maupun untuk menyelamatkan desa yang ia cintai.

Dengan cerita yang memadukan drama, budaya, dan konflik sosial, Para Perasuk diharapkan mampu memberikan pengalaman sinematik yang berbeda bagi penonton. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026.

Kontributor: Sarah Limbeng

Penulis dan Editor: Permadani T.