Film Tanah Runtuh Hadirkan Representasi Anak Down Syndrome yang Humanis Lewat Sosok Ringgo

Tanah Runtuh menghadirkan karakter anak Down Syndrome yang digambarkan secara utuh dan manusiawi. Lewat perjalanan Ringgo mencari sang ibu di tengah konflik, film ini menawarkan refleksi tentang cinta, keluarga, dan kemanusiaan.

FILM

Redaksi Fasamedia

6/11/20262 min read

Jakarta, Fasamedia – Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan karya yang mengangkat isu kemanusiaan dengan pendekatan berbeda. Film Tanah Runtuh karya sutradara Rudi Soedjarwo dan produser Denny Siregar tidak hanya mengisahkan perjalanan dua anak yang terpisah dari ibunya di tengah konflik, tetapi juga menghadirkan representasi anak dengan Down Syndrome yang jarang ditemui di layar lebar Indonesia.

Karakter Ringgo yang diperankan Ridho Khaliq menjadi pusat emosional cerita. Dalam film ini, Ringgo digambarkan sebagai seorang anak dengan Down Syndrome yang harus menghadapi situasi sulit ketika dirinya dan sang adik, Kai, terpisah dari ibu mereka akibat kerusuhan yang melanda Desa Tanah Runtuh di Poso, Sulawesi Tengah.

Di tengah maraknya film yang menampilkan penyandang disabilitas sebagai objek simpati atau inspirasi, Tanah Runtuh mengambil langkah berbeda. Film ini berusaha menempatkan Ringgo sebagai manusia seutuhnya, dengan segala ketakutan, harapan, kasih sayang, dan keinginannya sendiri.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu nilai utama yang diusung film ini. Alih-alih menonjolkan keterbatasan yang dimiliki Ringgo, cerita justru memperlihatkan bagaimana karakter tersebut menjadi sumber kehangatan dan ketulusan bagi orang-orang di sekitarnya.

Sutradara Rudi Soedjarwo mengatakan bahwa yang menarik baginya bukan hanya konflik besar yang menjadi latar cerita, melainkan bagaimana manusia bertahan dan tetap saling menjaga dalam kondisi yang penuh tekanan.

"Ketika dunia terasa runtuh, yang sering menyelamatkan kita justru bukan hal-hal besar, tetapi orang-orang yang memilih untuk tetap tinggal dan peduli. Saya tertarik pada manusia-manusia di dalamnya, dan melalui Ringgo, saya merasa film ini memiliki hati yang sangat kuat," ujar Rudi.

Menurutnya, karakter Ringgo menjadi simbol bahwa kepedulian dan kasih sayang sering kali hadir dari sosok yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Produser Denny Siregar menilai bahwa kehidupan saat ini membuat banyak orang terjebak dalam kemarahan, kecemasan, dan prasangka. Karena itu, Tanah Runtuh hadir sebagai pengingat tentang pentingnya melihat dunia dengan hati yang lebih terbuka.

"Hari ini kita hidup di masa ketika semua orang seperti sedang marah, takut, dan lelah. Kita terlalu sering melihat dunia dengan prasangka dan kebisingan. Lewat Ringgo, saya merasa kita diingatkan kembali pada sesuatu yang sangat sederhana: bahwa manusia bisa saling mencintai tanpa syarat dan saling menjaga tanpa harus melihat perbedaan," katanya.

Karakter Ringgo juga menjadi jembatan bagi penonton untuk memahami bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Kadang, perhatian sederhana dan kehadiran seseorang justru menjadi kekuatan terbesar ketika menghadapi masa-masa sulit.

Film ini juga dibintangi Vino G. Bastian sebagai Idham, seorang anggota yang bertugas di wilayah konflik. Dalam perjalanannya, Idham bertemu dengan Kai dan Ringgo, lalu memutuskan membantu mereka menemukan sang ibu.

Vino mengaku banyak belajar dari karakter Ringgo selama proses produksi film.

"Yang paling menyentuh buat saya bukan konflik atau kekacauan yang terjadi di sekeliling mereka. Justru bagaimana Ringgo melihat dunia dengan cara yang sangat tenang. Ada kejujuran, ada cinta, dan ada ketulusan yang mungkin mulai jarang kita temukan dalam kehidupan orang dewasa hari ini," ujarnya.

Film berdurasi 2 jam 51 menit ini juga menjadi refleksi mengenai pentingnya representasi yang inklusif dalam perfilman Indonesia. Kehadiran karakter Ringgo menunjukkan bahwa penyandang Down Syndrome memiliki cerita yang layak didengar dan ruang yang layak untuk ditampilkan secara setara.

Dengan dukungan jajaran pemain seperti Yoan, Sigi Wimala, Jenda Munthe, Tike Priatnakusumah, hingga Luna Allegra, Tanah Runtuh menawarkan pengalaman sinematik yang menyentuh sekaligus mengajak penonton merenungkan arti kemanusiaan. Film produksi Denny Siregar Production tersebut dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 25 Juni 2026.

Kontributor: Sarah Limbeng

Editor: Permadani T.

Informasi

Berita, event, kuliner, entertainment terkini

Masukkan alamat email anda