Film Tanah Runtuh Tampilkan Sisi Humanis Konflik Poso Lewat Perjalanan Dua Bersaudara

Official trailer Tanah Runtuh resmi dirilis. Film garapan Rudi Soedjarwo ini mengisahkan perjalanan Kai dan Ringgo mencari sang ibu di tengah konflik, sekaligus menghadirkan pesan kuat tentang empati dan ikatan kemanusiaan.

FILM

Redaksi Fasamedia

5/10/20262 min read

Fasamedia — Film drama terbaru Tanah Runtuh resmi merilis official trailer dan poster perdana. Diproduksi oleh Denny Siregar Production, film ini menawarkan kisah yang menyoroti sisi kemanusiaan di tengah konflik sosial yang pernah terjadi di Indonesia. Disutradarai Rudi Soedjarwo dan diproduseri Denny Siregar, Tanah Runtuh dijadwalkan tayang di bioskop mulai 25 Juni 2026.

Film ini mengisahkan perjalanan Kai dan kakaknya, Ringgo, seorang anak dengan Down Syndrome, yang terpisah dari ibu mereka saat kerusuhan agama di Poso, Sulawesi Tengah. Dalam situasi yang penuh ketakutan, Kai yang masih kecil berusaha membawa sang kakak melewati berbagai tempat pengungsian demi menemukan ibu mereka kembali.

Kisah tersebut kemudian berkembang ketika mereka bertemu dengan Idham, seorang polisi yang ditugaskan menangani konflik di wilayah tersebut. Karakter Idham diperankan oleh Vino G. Bastian.

Awalnya, Idham hanya fokus menjalankan tugas negara. Namun pertemuan dengan Kai dan Ringgo membuatnya ikut terlibat secara emosional dalam perjalanan dua anak tersebut.

Menurut Vino G. Bastian, kekuatan utama film ini terletak pada hubungan antar manusia yang tumbuh di tengah situasi sulit.

“Buat saya, Tanah Runtuh bukan sekadar cerita tentang konflik, tapi tentang bagaimana manusia tetap berusaha saling menjaga di tengah situasi yang kacau,” ujar Vino dalam keterangan resmi.

Ia juga menyebut karakter Idham mengalami perubahan batin selama mendampingi Kai dan Ringgo.

“Perjalanan bersama Kai dan Ringgo membuat dia melihat banyak hal secara lebih personal. Itu yang membuat film ini terasa sangat manusiawi,” katanya.

Trailer resmi film memperlihatkan atmosfer penuh ketegangan sekaligus emosional. Penonton diperlihatkan suasana pengungsian, perjalanan di tengah kerusuhan, hingga momen sederhana yang memperlihatkan tumbuhnya rasa saling peduli.

Poster resmi film juga menampilkan nuansa melankolis dengan visual yang menggambarkan kehilangan dan harapan.

Sutradara Rudi Soedjarwo mengatakan bahwa ia ingin menghadirkan film yang tidak berfokus pada konflik semata, tetapi pada dampak emosional yang dirasakan manusia di dalamnya.

“Saya ingin membuat film yang lebih hening. Bukan tentang sejarah konflik yang terjadi selama bertahun-tahun, tetapi kita lihat dari kacamata yang berbeda,” ujarnya.

Rudi menilai tragedi besar sering kali meninggalkan luka yang panjang bagi masyarakat kecil yang terdampak langsung.

“Ini tentang kehilangan, kerusakan hubungan, dan harapan yang tetap ada ketika semuanya terasa runtuh,” tambahnya.

Salah satu hal yang paling disorot dalam film ini adalah representasi karakter dengan Down Syndrome. Ringgo tidak hanya hadir sebagai karakter pendukung, tetapi menjadi pusat emosi cerita.

Pendekatan tersebut disebut sebagai bagian dari visi rumah produksi untuk menghadirkan perfilman yang lebih inklusif.

Selain Vino G. Bastian, film ini turut dibintangi Ridho Khaliq, Yoan, Sigi Wimala, Jenda Munthe, Tubagus Ali, Agnes Naomi, Jerry Likumahwa, Royhan Hidayat, Umar, Tike Priatnakusumah, Luna Allegra, dan Sari Koeswoyo.

Dengan genre drama dan durasi hampir tiga jam, Tanah Runtuh diproyeksikan menjadi salah satu film Indonesia yang kuat secara emosional pada tahun ini.

Tidak hanya menyuguhkan cerita keluarga, film ini juga mencoba membuka ruang diskusi tentang kemanusiaan, empati, serta pentingnya melihat konflik dari sisi para korban yang mengalaminya secara langsung.

Kontributor: Sarah Limbeng

Editor: Permadani T.