Hubungan Abusif Tidak Datang Tiba-Tiba, Kenali Tanda-Tandanya Sebelum Terlambat

Pelaku kekerasan tidak selalu terlihat kasar sejak awal. Di balik sikap romantis dan perhatian berlebihan, bisa saja tersembunyi upaya mengendalikan yang perlahan merenggut kebebasan pasangan.

RELATIONSHIP

Redaksi Fasamedia

6/27/20262 min read



Fasamedia — Banyak perempuan tidak pernah membayangkan akan menjadi korban kekerasan dalam hubungan. Ketika menjalin kasih, mereka bertemu dengan sosok yang tampak hangat, penuh perhatian, dan selalu ingin membuat mereka merasa dicintai. Namun, tidak sedikit kisah tragis justru berawal dari hubungan yang terlihat sempurna.

Kasus penyekapan dan penyiksaan seorang perempuan di Jawa Barat yang terjadi selama bertahun-tahun membuka mata banyak orang bahwa pelaku kekerasan tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan. Sebaliknya, mereka bisa tampil sebagai pasangan yang romantis sebelum perlahan menunjukkan sifat mengendalikan. Hubungan abusif biasanya berkembang sedikit demi sedikit hingga korban sulit menyadari bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan.

Romantis Belum Tentu Sehat

Memberikan perhatian adalah hal yang wajar dalam hubungan. Namun perhatian berubah menjadi masalah ketika mulai disertai keinginan mengatur hidup pasangan.

Misalnya, pasangan ingin mengetahui seluruh aktivitas Anda setiap waktu, meminta laporan ke mana pergi, memaksa melakukan video call setiap saat, atau marah ketika pesan tidak segera dibalas.

Awalnya semua itu mungkin terdengar sebagai bentuk kepedulian. Lama-kelamaan, korban mulai kehilangan ruang untuk dirinya sendiri.
Yang lebih berbahaya, korban justru merasa bersalah ketika ingin memiliki waktu bersama keluarga atau teman. Padahal cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kebebasan.

Isolasi Menjadi Senjata Pelaku

Pelaku kekerasan sering berusaha memutus hubungan korban dengan lingkungan terdekatnya. Mereka mulai mengatakan bahwa sahabat membawa pengaruh buruk, keluarga tidak peduli, atau hanya dirinya yang benar-benar memahami korban.

Ketika korban mulai menjauh dari orang-orang terdekat, pelaku menjadi satu-satunya tempat bergantung. Dalam kondisi seperti itu, korban akan semakin sulit mencari pertolongan ketika kekerasan mulai meningkat.

Kekerasan Hampir Selalu Berulang

Banyak korban memaafkan pasangan karena percaya bahwa pelaku benar-benar menyesal.
Harapan itu muncul karena setelah melakukan kekerasan, pelaku biasanya berubah menjadi sangat manis. Ia meminta maaf, menangis, memberikan hadiah, bahkan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Sayangnya, pola tersebut sering kali hanya menjadi bagian dari cycle of abuse atau siklus kekerasan. Setelah suasana membaik, kemarahan muncul kembali. Kekerasan terjadi lagi. Kemudian permintaan maaf kembali datang.
Siklus itu terus berulang dan sering menjadi semakin berat.

Ancaman Adalah Bentuk Manipulasi

Kalimat seperti "Kalau kamu pergi, aku bunuh diri", "Kalau bukan sama aku, jangan sama siapa pun", atau "Aku marah karena terlalu sayang" bukanlah ungkapan cinta.

Ucapan seperti itu bertujuan membuat korban takut meninggalkan hubungan. Manipulasi emosional membuat korban merasa bertanggung jawab atas kondisi pelaku, padahal setiap orang bertanggung jawab atas pilihan dan emosinya sendiri.

Hubungan yang sehat tidak dibangun dengan ancaman. Hubungan yang sehat dibangun dengan rasa aman.

Mengapa Korban Sulit Meninggalkan Pelaku?

Banyak orang masih menyalahkan korban dengan mengatakan, "Kalau memang disiksa, kenapa tidak pergi?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana itu. Korban bisa mengalami trauma bonding, yaitu keterikatan emosional yang muncul akibat siklus kekerasan dan permintaan maaf yang terus berulang.

Selain itu ada rasa takut, ketergantungan emosional, tekanan psikologis, hingga kondisi learned helplessness yang membuat korban merasa tidak memiliki jalan keluar. Karena itu, korban membutuhkan dukungan, bukan penghakiman.

Maskulinitas Tidak Sama dengan Dominasi

Sudah saatnya mengubah cara pandang mengenai laki-laki. Masih ada anggapan bahwa laki-laki harus selalu dominan dan mampu menguasai pasangannya. Padahal, pemahaman itu justru melahirkan banyak hubungan yang tidak sehat.

Laki-laki yang kuat bukan mereka yang mahir mengendalikan perempuan. Laki-laki yang kuat adalah mereka yang mampu mengendalikan dirinya sendiri, mengendalikan amarah, menghormati pasangan, mampu berdialog ketika berbeda pendapat, tidak menggunakan kekerasan untuk mendapatkan keinginannya. Itulah bentuk kekuatan yang sesungguhnya.

Jangan Tunggu Sampai Terlambat

Tamparan pertama, bentakan pertama, penghinaan pertama, ancaman pertama. Semuanya adalah tanda yang tidak boleh dianggap sepele. Semakin cepat tanda-tanda itu dikenali, semakin besar kesempatan seseorang keluar dari hubungan yang berbahaya.
Jika Anda melihat orang terdekat mengalami kondisi tersebut, jangan diam. Jadilah tempat yang aman untuk mendengar, mendukung, dan membantu mereka mencari pertolongan.

Karena cinta yang sehat tidak pernah lahir dari rasa takut. Cinta yang sehat selalu memberi rasa aman, saling menghargai, dan tumbuh bersama tanpa saling menguasai.
Editor: Permadani T.

Informasi

Berita, event, kuliner, entertainment terkini

Masukkan alamat email anda