Peringati Hari Perempuan Internasional, Film Invisible Hopes Soroti Nasib Anak yang Lahir di Penjara

Film dokumenter Invisible Hopes kembali diputar dalam momentum International Women’s Day 2026 untuk membuka ruang diskusi mengenai perlindungan perempuan dan anak di lembaga pemasyarakatan. Kegiatan yang digelar oleh Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia ini menghadirkan berbagai pihak untuk mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada hak anak.

EVENT

Redaksi Fasamedia

3/8/20262 min read

Fasamedia — Momentum International Women’s Day 2026 dimanfaatkan untuk kembali menyoroti isu perlindungan perempuan dan anak yang hidup dalam situasi khusus, termasuk mereka yang berada di lembaga pemasyarakatan.
Melalui kerja sama antara Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PNPS GMKI) dan rumah produksi Lam Horas Film, sebuah pemutaran dan dialog film dokumenter Invisible Hopes diselenggarakan di Jakarta pada 7 Maret 2026.

Acara ini tidak hanya menjadi kegiatan sinema, tetapi juga ruang advokasi yang mempertemukan berbagai pihak untuk membahas kondisi perempuan hamil dan anak-anak yang lahir di balik jeruji penjara.

Kisah Nyata di Balik Jeruji


Film Invisible Hopes mengangkat cerita nyata mengenai perempuan yang harus menjalani masa kehamilan, melahirkan, hingga membesarkan anak di dalam lembaga pemasyarakatan. Kisah-kisah tersebut menggambarkan berbagai tantangan yang dihadapi para ibu, mulai dari keterbatasan fasilitas kesehatan hingga kurangnya ruang tumbuh yang memadai bagi anak-anak mereka.

Realitas ini sering kali luput dari perhatian publik, padahal jumlah perempuan yang menjalani hukuman pidana sambil mengandung atau merawat bayi tidak sedikit.

Film Dokumenter yang Menggerakkan

Sejak pertama kali dirilis pada 2021, film ini telah menjadi bagian dari berbagai kegiatan advokasi sosial. Diproduksi oleh Lam Horas Film, film tersebut tidak hanya diputar di bioskop, tetapi juga di berbagai forum publik, kampus, komunitas, hingga konferensi yang membahas isu hak asasi manusia. Penghargaan yang diraih di ajang Festival Film Indonesia turut memperkuat posisi film ini sebagai salah satu dokumenter penting yang membahas isu perempuan dan anak di Indonesia.

Dialog Kebijakan


Ketua Umum PNPS GMKI, William Sabandar, menilai bahwa kegiatan ini penting sebagai ruang pertemuan antara masyarakat sipil dan para pengambil kebijakan. Melalui dialog yang digelar setelah pemutaran film, berbagai pihak diajak untuk melihat secara lebih dekat kondisi perempuan dan anak yang berada di dalam sistem pemasyarakatan.

Diskusi tersebut juga menghadirkan pandangan dari berbagai pihak, termasuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia serta perwakilan dari Kedutaan Besar Swiss di Indonesia.

Perlunya Pendekatan Berperspektif Anak


Salah satu isu utama yang dibahas adalah pentingnya kebijakan pemasyarakatan yang berorientasi pada kepentingan terbaik bagi anak. Anak-anak yang lahir di penjara tidak seharusnya kehilangan hak mereka untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Karena itu, berbagai pihak mendorong adanya perbaikan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan perempuan hamil dan anak-anak yang berada di dalam lembaga pemasyarakatan.

Komitmen Advokasi Berkelanjutan


Bagi PNPS GMKI, kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen organisasi dalam mendorong keadilan sosial. Sebagai organisasi yang menaungi alumni GMKI dari berbagai sektor, PNPS GMKI berkomitmen untuk terus terlibat dalam berbagai isu kemanusiaan, termasuk perlindungan hak perempuan dan anak.
Melalui pemutaran film Invisible Hopes dan dialog lintas sektor ini, diharapkan lahir langkah konkret untuk menciptakan sistem pemasyarakatan yang lebih adil dan manusiawi.
Kontributor: Sarah Limbeng
Penulis dan Editor: Permadani T.