Slamet Rahardjo Sebut Sintya Marisca "Warakas", Kisah Hangat di Balik Film CLBK Curi Perhatian
Candaan Slamet Rahardjo yang memanggil Sintya Marisca dengan sebutan "Warakas" sukses menghidupkan suasana konferensi pers film CLBK. Di balik tawa itu, tersimpan kisah kedekatan para pemain yang membangun chemistry kuat demi menghadirkan akting yang natural.
FILM


Fasamedia — Ada banyak cerita menarik yang muncul dalam konferensi pers film CLBK, salah satunya datang dari aktor senior Slamet Rahardjo dan aktris muda Sintya Marisca. Di balik keseriusan proses produksi, keduanya justru memiliki hubungan yang hangat dan penuh candaan.
Slamet Rahardjo mengungkapkan bahwa hingga kini dirinya tidak pernah memanggil Sintya Marisca menggunakan nama aslinya. Sebaliknya, ia selalu memanggil sang aktris dengan sebutan "Warakas".
Panggilan tersebut merujuk pada daerah asal Sintya di kawasan Warakas, Jakarta Timur.
Candaan itu kemudian disambut tawa para pemain dan awak media. Tak berhenti sampai di situ, Slamet Rahardjo kembali melontarkan kalimat yang langsung mencairkan suasana.
"Ternyata ada mutiara dalam lumpur di Warakas, Jakarta Timur."
Ucapan tersebut bukan dimaksudkan sebagai sindiran, melainkan bentuk pujian terhadap kualitas akting Sintya.
Sementara itu, Sintya Marisca mengungkapkan bahwa dirinya memang berusaha membangun kedekatan dengan Slamet Rahardjo sejak awal produksi. Ia memilih memperlakukan sang aktor layaknya seorang kakek. Pendekatan tersebut dilakukan agar hubungan emosional yang dibutuhkan dalam film dapat muncul secara alami.
Menurut Sintya, membangun kedekatan di luar proses syuting sangat membantu ketika kamera mulai merekam adegan. Interaksi mereka menjadi lebih spontan dan tidak terasa dibuat-buat.
Selain kisah tersebut, konferensi pers juga menghadirkan cerita dari Gisellma. Ia mengaku tantangan terbesarnya justru datang saat harus membangun rasa jatuh cinta kepada lawan main.
"Jatuh cinta itu susah."
Sebagai seorang aktor, menurut Gisellma, perasaan tersebut tidak bisa dipaksakan begitu saja. Ia harus memahami karakter secara mendalam agar emosi yang muncul benar-benar terasa.
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan chemistry yang kuat di dalam film. Keakraban seluruh pemain juga terlihat jelas sepanjang acara. Mereka saling bercanda, melempar komentar lucu, hingga menunjukkan hubungan yang sangat akrab. Hal tersebut membuat banyak orang percaya bahwa chemistry dalam film memang lahir dari hubungan baik di balik layar.
Aktris senior Widyawati pun membagikan pengalamannya bekerja bersama para pemain muda. Ia mengatakan bahwa ini merupakan kali pertama dirinya beradu akting dengan jajaran cast CLBK. Meski begitu, tidak ada jarak yang tercipta selama proses produksi. Menurut Widyawati, aktor senior memiliki tanggung jawab untuk ikut membangun kenyamanan bersama juniornya.
"Artis senior juga harus bisa mengakrabkan diri dengan junior."
Baginya, dunia perfilman merupakan tempat untuk saling belajar tanpa memandang usia maupun pengalaman. Hal senada juga disampaikan Slamet Rahardjo. Ia menjelaskan bahwa makna film jauh melampaui sekadar proses produksi.
"Film adalah saling mengisi, saling bersaudara, dan film tentang kebersamaan."
Nilai tersebut terasa kuat dalam proses produksi CLBK. Kolaborasi lintas generasi menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Mulai dari aktor senior hingga pemain muda mampu bekerja dalam suasana yang hangat dan saling mendukung.
Melalui kisah-kisah di balik layar tersebut, CLBK menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar cerita di layar lebar. Film ini juga memperlihatkan bagaimana hubungan antarpemain dibangun melalui rasa saling menghormati, kekeluargaan, dan kerja sama yang erat.
Kontributor: Ana Tasia
Penulis dan Editor: Permadani T.
Informasi
Berita, event, kuliner, entertainment terkini
Kontak
fasamediainformasi@gmail.com
+6285816161601
